Blog

Disabilitas dalam Perspektif Islam (Bagian I)

Bulan Ramadhan telah tiba, beragam kajian keislaman sangat banyak dilakukan di berbagai tempat, namun kajian keislaman mengenai disabilitas masih sangat jarang ditemukan di tempat-tempat kajian publik. Dalam rangka sedikit memberikan informasi dan pengetahuan mengenai topic disabilitas dan Islam secara umum, kami akan melakukan posting beberapa tulisan yang semoga dapat menggugah berbagai kajian lebih lanjut di masyarakat.

Apa itu Disabilitas?

Isu “disabilitas” hingga kini masih belum menjadi isu public yang dianggap penting, sehingga istilah “disabilitas” pun belum terdengar akrab di kalangan masyarakat secara umum. Istilah ‘disabilitas’ diambil dari serapan kata bahasa Inggris, disabilities, yang secara sederhana mengacu pada kondisi fisik atau mental yang membatasi gerakan, indera, atau kegiatan seseorang. Istilah disabilitas dalam masyarakat Indonesia seringkali dikenal dengan kecacatan. Hingga kini masih banyak orang yang menggunakan istilah cacat, kecacatan, padahal istilah ini secara resmi telah diganti dengan istilah disabilitas sejak tahun 2007 di Indonesia.

(Baca juga Istilah Penyandang Disabilitas Sebagai Pengganti Penyandang Cacat)

Apakah Setiap Manusia Sama?

Di mata Allah SWT, semua orang diciptakan sama. Meski pada sudut pandang kita sebagai manusia terdapat banyak perbedaan, namun semua perbedaan di antara kita diciptakan untuk suatu alasan.

Allah SWT telah menciptakan manusia (anak-anak Adam) sebagai ciptaan-Nya yang mulia. Allah SWT juga tidak menjadikan penampilan dan keadaan fisik sebagai ukuran untuk menilai keshalihan hamba-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah dan bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) dan perbuatan kalian.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Rasulullah saw. sendiri pernah mendapatkan teguran oleh Allah SWT melalui malaikat-Nya ketika beliau pernah mengabaikan seorang tunanetra sebagaimana terekam dalam kisah turunnya Surah Abasa ayat 1-2 :

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. Abasa 1-2)

Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah saw. menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah saw. membacakan kepadanya ayat-ayat Alquran yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullah saw. bermuka masam dan memalingkan muka dari Abdullah bin Ummi Maktum yang seorang tunanetra itu, lalu Allah SWT menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap Abdullah bin Ummi Maktum itu.

Kisah di atas sesungguhnya menjadi pembelajaran bagi kita untuk senantiasa memandang segala ciptaan-Nya sebagai makhluk yang sempurna. Perbedaan warna kulit, kelengkapan organ tubuh, dan lainnya tidak menjadikan kita lebih mulia sehingga membuat kita merendahkan orang lain karena sesungguhnya bisa jadi orang yang kita rendahkan adalah orang yang lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah SWT.

Wallahu a’lam ….

Beri Komentar?

Mari berbagi ide dan opini ....

avatar
wpDiscuz