Blog

Disabilitas dalam Perspektif Islam (Bagian II)

Disabilitas dalam Islam

Disabilitas bukan istilah yang didefinisikan dengan tegas dalam Islam, meski ada beberapa kata khusus untuk kondisi yang mengacu pada istilah disabilitas tertentu. Seseorang yang mengalami gangguan penglihatan disebut dengan a’ma, gangguan pendengaran disebut dengan Asamm, gangguan bicara disebut dengan abkam atau Akhras, gangguan mobilitas disebut dengan a’raj.

Ini berarti bahwa Islam mengakui kenyataan bahwa isu disabilitas merupakan isu yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat seringkali membatasi seseorang dengan tidak memberikan kesempatan atau akses bagi orang-orang dengan disabilitas.

Islam juga memberikan beberapa kata sifat umum untuk menggambarkan kondisi individu yang ‘kurang beruntung’, diantaranya Yateem (yatim), da’if (lemah), mustad’af (tertindas), ‘alasafar atau ibn sabil (bepergian), Miskin (miskin), Marid ( sakit), dan faqir (membutuhkan). Marid dapat mencakup individu dengan disabilitas fisik.

Hukuman atau Ujian?

Allah SWT telah berjanji kepada kita bahwa “dalam setiap kesulitan ada kemudahan” (QS 94: 5) dan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS 2: 286).

Jika kita melihat disabilitas melalui perspektif ini, kita dapat memahami bahwa disabilitas tidak dilihat sebagai beban atau hukuman – tetapi merupakan sebuah anugerah dan ujian hidup dari Allah SWT dengan imbalan berkali lipat jika kita sabar menghadapinya. Nabi Muhammad SAW meriwayatkan bahwa Allah SWT menyatakan, “Ketika Aku menguji hamba-Ku dengan mengambil dua hal yang dicintai [mata], dan dia tetap sabar, Aku memberinya surga.” (Sahih Bukhari, 5250)

Kewajiban dan Pengecualian

Sebagai seorang manusia dan hamba Yang Maha Kuasa, penyandang disabilitas juga memiliki hak serta kewajiban sesuai kemampuan mereka. Jika kewajiban ini di luar kemampuan mereka, Islam memberikan berbagai kemudahan bagi mereka baik dalam hal ibadah maupun berbagai bidang kehidupan lainnya.

Tanggung jawab sosial

Pemberian kesempatan dan akses bagi penyandang disabilitas merupakan tanggung jawab masyarakat dan para pemimpin. Allah SWT mendorong Nabi dan sahabat untuk berbagi makanan dengan mereka (QS 24:61).

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman untuk mengejek satu sama lain, dan Nabi Muhammad (saw) jelas memperingatkan, “Allah mengutuk orang yang menyesatkan orang buta dan membawanya menjauh dari jalan” (Sahih Bukhari, 4300).

 

Beri Komentar?

Mari berbagi ide dan opini ....

avatar
wpDiscuz